malam yang resah
02 januari 09
Oleh : A.Rengganis
Jikalah benar malam semakin tua
maka,
disanalah
ada aku yang berjingkrak pada asa
aku yang sedang memendam amarah
juga
disanalah
aku yang sedang menghitung detik per detik
waktu yang kian berputar tak kenal kompromi
sebentar saja,..
jenguklah malam yang semakin usang
di ingatkan kembali pada rutinitas yang
hanya sebatas penjara . sesak. penat. belenggu.
Sementara..
waktu terus menggeliat tanpa bersalah
ia angkuh pada jiwa yang rapuh
ia terus saja
berlari jauh sebagai pengembara
yang melintasi tiap tiap kesepian pertanda hari makin renta
yang menikmati jelajah hari pertanda akan terus berkelana menyambut kehidupan
berpola. bersinergis.
teratur pada suatu kesepakatan
tiada lelah
hanya sesekali ada guratan dari sisa-sisa hati yang resah. gundah.
sebelum kau dan aku usai menceritakan malam
temaram kian padam
merkuri hanya
melintas cakrawala malam yang kian surut dengan membawa segala persoalan yang tertunda
dengan kepingan reruntuhan kian berserakan
berpencar untuk sementara
disanalah kita masih menyimpan harapan dari ke-sia-sia an
menjinakkan lagi segala kebuntuan yang belum terpecahkan
sambil kau rengkuh aku di seperempat malam yang belum sempurna
bibirmu memainkan irama indah dan bersenandung
“gapai. gapai lah bintang yang kian ingkar akan janjinya”
kau bisikkan dengan mesra sementara resah di hatiku makin berkelebat
entah mengapa?
semakin merdu nyanyianmu justru
semakin meruntuhkan nyali ini
semakin
terasa di kala desir-desir ombak kian menyapu pada keraguan hati
yang,
akan terbantahkan oleh apa yang kau sebut kebenaran
selanjutnya,,
adalah kebuntuan yaitu teman di setiap celah mimpi
tak perlulah kau bernada lagi
mari kita nikmati dan berjingkrak pada malam yang sepi
bisu
dan tak usah lagi memburu waktu
Senin, 22 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar