Sekat Batas antara Puisi dan Penyair
Oleh : A.Rengganis*
….Berilah aku satu kata puisi
daripada seribu rumus yang penuh janji
yang menyebabkan aku terlontar kini jauh dari bumi
yang kukasih. Angkasa ini bisu. Angkasa ini sepi…
(Soebagio Satrowardoyo)
Jangan sepelekan puisi. Sepengal bait dalam puisi tidaklah sekedar kata-kata kosong. Dalam sebuah puisi terdapat rangkaian kata-kata yang membangun pola dan dunianya sehinga kalimat itu menjadi bernyawa. Puisi bukanlah suatu proses pencarian bentuk kata-kata yang tak selesai. Meminjam penilaian Sapardi Djoko Damono yang melihat pengalaman puisi sebenarnya tidak terucapkan, karena itu puisi selalu menyisakan keremang-remangan Puisi yang ditulis oleh si penyair memang cenderung lekat degan pengalaman puitik si penulis. Hal ini memeperjelas bahwa hakikat puisi sebagai suatu bentuk tulisan yang bersifat sangat pribadi/personal. Sebuah puisi biasanya memang hanya akan berisi cerminan pemahaman sang penulis puisi (penyair) akan sesuatu hal di dunianya. Konsep ini tidak ada campur tangan orang lain artinya puisi lah yang melekat pada penyairnya, dimanapengalaman dan sisi gelap penyair akan ter-representasikan pada rangkaian kata-kata puisi.
Seperti dalam pandangan Afrizal Malna yaitu pola seperti logos, rasionalisasi, pengetahuan, tehnik, semuanya itu baru mulai bekerja ketika penyair mulai mencari bentuk untuk merepresentasikan pengalaman tersebut. Apakah benar pernyataan yang digaungkan oleh Malna? Jika benar demikian, akankan tanpa proses tersebut, intelektualisasi dalam pembentukan puisi hanya akan menyisakan pengalaman puisi gelap?. Akhirnya, puisi tersebut akan sangat sulit dipahami dan hanya sekedar nilai ekskusifitas si penyair. Apakah ini yang menjadi satu alasan agar (kata sebagian orang) tak perlulah puisi itu di terjemahkan. Karena puisi tersebut sudah sedemikian pribadi dan subyektifitas puisi tersebut melahirkan maknanya sendiri. Jika demikian bukankah puisi akan gagal membangun dirinya menjadi ide atau visi-visi tertentu. Akankah puisi nantinya menjadi dunia misteri yang di dalamnya hanya sekedar pengalamn si penyair? Pengalaman yang hanya akan menjadi kekosongan kata-kata yang sia-sia dituliskan. Menyoal ke sia-sian dalam puisi dibantah keras oleh Wing Kardjo yang ia tulis dalam sepengal puisi ; Kutuliskan lagi kata-kata sepi. Kutuliskan tak henti-henti walau tak berarti Dalam ungkapan puisi tersebut seolah ada usaha bagaima menjelaskan ke sia-sian sebagai sesuatu yang tdiak sia-sia. Dalam uraianMalna di ungkapkan bahwa kesia-siaan adalah suatu bentuk sebagai pengalaman yang bermakna. Lalu apa sebenarnya puisi? Apakah sekedar ruang yang mengidentifikasi teks-teks yang menjadi suatu “rahasia” dan “misteri”?. Bagaimana kemudian kita (sebagai pembaga) menikmati puisi secara utuh?. Misteri estetis di dalamnya adalah kesan dimana puisi ini akan sangat menarik atau hanya akan menjadi misteri. Namun misteri tersebut menurut Abdul Hadi bukanlah suatu jalan untuk menenggelamkan puisi ke dalam semcam dunia yang tidak tersentuh yang ia sebut sebagai “ruang menyelenggarakan kesunyian”. Karena sebenarnya ia suati upaya untuk memenuhi niali estetis dalam puisi untuk menghadirkan daya pesona tertentu. Bnayak penyair Indoensia yang menggunakan berbagai macam gya dan pesoan untuk mencari nilai estetik tersebut. Ruang estetik ini yang menjadi arus dalam penonjolan kretivitas dari masing-masing penulis. Persolaan gaya dalampuisi ini ditimpai oleh Gunawan Muhammad bahwa sejatinya sebuah puisi itu berbicara langsung, hanya kadang-kadang jalan yang ditempuhnya buknalah jalan yang dipetakkan satu petak demi satu petak Seiring perkembangan zaman, kini gaya bahasa puisi kontemporer semakin sederhana, dengan pembawaan puisi gaya teatrikal, meledak-ledak seperti orasi, dan menjadi semcam alat pergerakan. Ini menjadi beberapa cara yang telah ditempuh guna mengubah puisi agar lebih komunikatif dan menjadi milik semua orang. Tidak lagi menjadi ruang hitam yang gelap dan penuh misteri. Karena puisi (sastra) juga terus-menerus mengambil semakin banyak peran dan pengaruh dalam kemajuan kehidupan manusia. Kita lihat dalam kemajuan peradaban Tiongkok (yang juga mempengaruhi Vietnam, dan Jepang,) tentu tak bisa dilepaskan dari budaya mereka yang sangat menjunjung tinggi sajak- sajak dan para penyair. Sementara dalam dunia sosial dan politik telah berkali-kali pula dicatat peran para penyair misalnya, Pablo Neruda, Chairil Anwar Nikolai Vaptsarov, Taufik Ismail, Fransisco Borja da Costa, juga Wiji Thukul, yang lewat puisi mereka memimpin bangsanya ke arah perubahan. Mari kita lihat sepenggal puisi Wiji Tukul yang turut di gaungkan saat melumpuhkan orde baru;
“…Apabila usul ditolak tanpa ditimbang ,
suara dibungkam , kritik dilarang tanpa alasan,
dituduh subversive dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata : lawan!...”
( Penggalan Puisi Surat Peringatan)
Tak ada alasan untuk menilai kalau menulis puisi itu hanyalah ke-sia-sian belaka.
Mari kita jawab sendiri apakah benar demikian?.
* Annisa Rengganis yang biasa dipanggil Qthink saat ini masih aktif menjadi anggota Teater Sianak sks 2006. Selain kuliah di jurusan Teater Sianak, ia pun aktif belajar di kelas ilmu Politik FISIP unsoed. Ia hanya wanita yang biasa-biasa saja namun banyak mimpi sampe lupa dunia sebenarnya itu seperti apa. Esai kecil ini pernah dimuat di buletin Gairah Tak Biasa (GTB) volume 3.
Senin, 22 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar